Showing posts with label Ilmu Hadis. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Hadis. Show all posts

Friday, December 14, 2012

أنواع التخريج


أنواع التخريج
إذا نظرنا إلى كتب التخريج المتداولة، يمكن أن نقسم تخريج الحديث إلى ثلاثة أنواع، وهي: التخريج الإجمالي، والتخريج المتوسط، والتخريج التفصيلي.[1]
1.   التخريج الإجمالي هو ذكر مصادر الحديث إجمالا بدون تفصيل بأن يكتفي بقول المصنف أخرجه البخاري أو مسلم فقط. وهذا ما صنع ابن الملقن (ت 804هـ) في كتابه "منتقى خلاصة البدر المنير في تخريج الأحاديث والاثار الواقعة في شرح الكبير".
وعناصر هذا النوع هي: الحديث المراد تخريجه، الكتاب الذي يستعان به، الحاجة للحديث للاستدلال به.
[2]

Sunday, November 4, 2012

Silsilatudz Dzahab dalam Hadis

Dalam dunia sanad hadis, dikenal nama Silsilatudz Dzahab (Komposisi Emas). Yaitu, komposisi terbaik dalam sebuah sanad hadis. Di mana dalam sanad hadis, terdapat nama TOP yang meriwayatkan sebuah hadis. Dalam bahasa kita bisa disebut The Dream Team-lah...

Nah, seperti apakah The Dream Team dalam sanad hadis itu?
Ya, itulah yang oleh ulama disebut dengan Silsilatudz Dzahab. 

Sanad Hadis yang Paling Shahih


Para ulama berbeda pendapat dalam menyatakan sanad hadis yang paling shahih. Maksudnya, sanad seperti apa, komposisi perawi seperti apakah sehingga sebuah hadis disebut paling shahih. Ada beberapa pendapat dari para ulama. Saya sebutkan seperti berikut.

Saturday, October 20, 2012

Memahami Hadis Shahih

Hadis sahih adalah:

- Hadis yang sanadnya muttashil (tersambung)
- Diriwayatkan oleh para perawi yang adil
- Para perawinya dhabith (kuat hafalannya)
- Bebas dari syadz dan illat

Maksud dari muttashil >>>

Periwayatan hadis tersebut tidak terputus pada seseorang. Misalnya, dalam sanadnya disebutkan hadis itu diriwayatkan dari si A ke si B. Padahal, keduanya tidak pernah hidup semasa, sehingga tidak memungkinkan ada pertemuan di antara keduanya--apalagi meriwayatkan hadis. Maka, hadis yang seperti itu ada kalanya disebut hadis Munqathi', Mu'dhal, dan Mursal. (Penjelasan lebih detail tentang istilah-istilah tersebut, insya Allah akan diberikan dalam judul tersendiri).

Wednesday, October 3, 2012

Albani Men-Dhaifkan Hadis dalam Shahih al-Bukhari

Albani ternyata lumayan "berani" juga (baca: lancang) menilai hadis-hadis yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim sebagai hadis dhaif. Di mana di satu tempat, dia bilang hadis shahih di tempat lain dia bilang dhaif. Bahkan setelah menyebutkan takhrij-nya bahwa hadis itu diriwayatkan Bukhari atau Muslim, dia menyatakan dhaif. Berikut ini adalah beberapa contohnya.
Hadis:

6763 - (قَالَ اللَّهُ: ثَلَاثَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، [ومن كنت خصمه، خصمته] : رَجُلٌ أَعْطَى بِي ثُمَّ غَدَرَ، وَرَجُلٌ بَاعَ حُرًّا فَأَكَلَ ثَمَنَهُ، وَرَجُلٌ اسْتَأْجَرَ أَجِيرًا، فَاسْتَوْفَى مِنْهُ، وَلَمْ يُعْطِ (وفي رواية: ولم يُوفه) أَجْرَهُ) .

Kemudian apa yang disebutkannya setelah itu? Dia bilang DHAIF.
Sementara, setelah itu dia menyebutkan takhrij hadisnya:

Mengapa Syaikh Albani Tidak Bisa Dijadikan Rujukan dalam Hadis?

Dalam sebuah perkuliahan bersama seorang doktor Ilmu Hadis, beliau membicarakan tentang kapasitas Syaikh Albani dalam menilai hadis dhaif atau shahih, atau hasan, atau yang lainnya.

Apa ucapan beliau?

"La yu'tabar..."
(Dia tak dianggap (tidak bisa dijadikan rujukan...)

Begitu pula, saat beberapa orang kawan yang melakukan kajian hadis, dan kebetulan mendapatkan beliau sebagai pembibing, maka beliau akan mencoret setiap kutipan tentang penilaian hadis yang merujuk pada pendapat Albani:

Saturday, September 22, 2012

Macam-macam Takhrij

Dalam melakukan kegiatan takhrij, kita bisa memilih salah satu dari 3 (tiga) macam sebagaimana berikut ini. Pembedaan macam takhrij itu hanyalah seberapa luas pembahasan yang kita lakukan dalam kegiatan tersebut. Lebih jelasnya, simak tulisan ringkas berikut:

1. Takhrij Muwassa'/Tafshili (Detail)

Pen-takhrij melakukan kegiatan takhrij pada semua jalur sanad hadis yang ditemukannya, menyebutkan semua sumber di mana hadis tersebut berada, serta menjelaskan kualitas hadis. Ia juga menyertakan pendapat para ulama tentang hadis tersebut dan kajian-kajian terbaru para ulama terkait hadis tersebut--baik dari segi sanad maupun matan-nya.

Metode dan Cara Takhrij Hadis Menurut Para Ulama

Salah satu hal inti dalam melakukan takhrij adalah mengetahui metode dan cara melakukan takhrij. Para ulama mengemukakan pendapatnya tentang hal ini. Kali ini saya hendak merangkumkan beberapa pendapat mereka di tulisan ini.

Menurut Mahmud Thahhan, dalam kitab Ushul at-Takhrij wa Dirasat al-Asanid:
Metode dan cara takhrij hadis itu ada 5 cara antara lain:
1. Dengan berpedoman pada perawi hadis dari tingkatan sahabat;
2. Dengan berpedoman pada kata pertama dalam redaksi (matan) hadis;

Sunday, July 15, 2012

Bahaya Hadits Dla’if Dan Mawdlu’ (Palsu)

Di antara bencana besar yang menimpa kaum Muslimin sejak periode-periode pertama adalah tersebar luasnya hadits-hadits Dla’if (lemah) dan Mawdlu’ (palsu) di tengah mereka. Tidak ada seorang pun yang dikecualikan di sini sekalipun mereka adalah kalangan para ulama mereka kecuali beberapa gelintir orang yang dikehendaki Allah, di antaranya para imam hadits dan Nuqqaad (Para Kritikus hadits) seperti Imam al-Bukhary, Ahmad, Ibn Ma’in, Abu Hatim ar-Razy dan ulama lainnya.

Penyebaran yang secara meluas tersebut mengakibatkan banyak dampak negatif, di antaranya ada yang terkait dengan masalah-masalah aqidah yang bersifat ghaib dan di antaranya pula ada yang berupa perkara-perkara Tasyri’ (Syari’at).

As-Sunnah, Wahyu Kedua Setelah Al-Qur`an

Pengertian As-Sunnah

Yang dimaksud As-Sunnah di sini adalah Sunnah Nabi, yaitu segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad berupa perkataan, perbuatan, atau persetujuannya (terhadap perkataan atau perbuatan para sahabatnya) yang ditujukan sebagai syari’at bagi umat ini. Termasuk didalamnya apa saja yang hukumnya wajib dan sunnah sebagaimana yang menjadi pengertian umum menurut ahli hadits. Juga ‘segala apa yang dianjurkan yang tidak sampai pada derajat wajib’ yang menjadi istilah ahli fikih (Lihat Al-Hadits Hujjatun bi Nafsihi fil Aqaid wa al Ahkam karya As-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hal. 11).

Apa Itu Hadîts Qudsiy?

Apa Itu Hadîts Qudsiy

Mukaddimah


Pada kajian ilmu hadits kali ini, sengaja kami ketengahkan masalah Hadîts Qudsiy yang tentunya sudah sering didengar atau dibaca tentangnya namun barangkali ada sebagian kita yang belum mengetahuinya secara jelas.

Untuk itu, kami akan membahas tentangnya secara ringkas namun terperinci insya Allah, semoga bermanfa'at.

Apa Itu Hadits Hasan?

Apa Itu Hadits Hasan ?

Mukaddimah

Yang dimaksud dalam kajian ini adalah bagian ke-dua dari klasifikasi berita yang diterima, yaitu Hasan Li Dzâtihi (Hasan secara independen).
Barangkali sebagian kita sudah pernah membaca atau mendengar tentang istilah ini, namun belum mengetahui secara persis apa yang dimaksud dengannya, siapa yang pertama kali mempopulerkannya, buku apa saja yang banyak memuat bahasan tentangnya?
Itulah yang akan kita coba untuk mengulasnya secara ringkas tapi padat, insya Allah.

Saturday, April 28, 2012

Pengertian Takhrij

Di sini saya akan menuliskan kembali secara ringkas apa yang dituliskan oleh Dr. Mahmud Thahhan tentang takhrij dalam kitabnya ushul at-Takhrij wa Dirasat al-Asanid terbitan Penerbit Maktabah ar-Rusyd.

Pengertian takhriji secara bahasa adalah: kumpulnya dua hal yang berbeda menjadi satu.
Dalam bahasa Arab, kata takhrij juga kerap diucapkan untuk menunjukkan arti: istinbath, tadrib, dan taujih.

Karya-karya Imam Al-Bukari

Karya Imam Bukhari antara lain:

    Al-Jami' ash-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari
    Al-Adab al-Mufrad[1][2]
    Adh-Dhu'afa ash-Shaghir[3]
    At-Tarikh ash-Shaghir
    At-Tarikh al-Ausath[4]
    At-Tarikh al-Kabir[5]
    At-Tafsir al-Kabir
    Al-Musnad al-Kabir
    Kazaya Shahabah wa Tabi'in
    Kitab al-Ilal
    Raf'ul Yadain fi ash-Shalah
    Birr al-Walidain
    Kitab ad-Du'afa
    Asami ash-Shahabah
    Al-Hibah
    Khalq Af'al al-Ibad[6]
    Al-Kuna
    Al-Qira'ah Khalf al-Imam

Tuesday, April 3, 2012

Thabaqat ar-Ruwat (Tingkatan para Perawi Hadis)

Dalam kajian tentang perawi, kita harus mengetahui segala hal yang berkaitan dengan orang-orang yang berkecimpung dalam dunia periwayatan (bukan persilatan lho-red). Mulai dari nama lengkapnya, julukannya, nama panggilannya, tempat tanggal lahir maupun wafatnya, tempat domisilinya, tempat-tempat yang pernah dikunjunginya (rihlah), guru-gurunya, maupun thabaqat-nya.

Dalam kesempatan ini, kita hendak membahas tentang Thabaqat ar-Ruwat (Tingkatan para Perawi Hadis).
- Menurut kamus bahasa, arti thabaqat adalah sekelompok orang yang hidup semasa atau dalam zaman yang berbeda namun mempunyai kapasitas-kualitas yang sama secara keilmuan, keahlian, atau profesinya.
- Menurut istilah ilmu hadis, thabaqat ialah kelompok orang yang semasa, sepantaran usianya, sama dalam periwayatan hadis atau dalam menerima hadis dari guru-gurunya.

Metode Imam an-Nasai dalam Riwayat Hadis

Tiap ulama mempunyai kriteria tersendiri dan metode khusus dalam meriwayatkan hadis. Begitu juga dalam menyusun buku-bukunya. Kita akan bahas satu per satu ciri dan metode para imam hadis dalam menyusun kitab mereka. Gak perlu urut ya, yang ada saja langsung saya tuliskan. Untuk kali ini kita mulai dengan Imam an-Nasai.

Metode Imam An-Nasai dalam menyusun kitab as-Sunan-nya adalah:

1. Semua hadis yang dimuatnya hanya berkisar hadis tentang hukum saja.

2. Bab dalam bukunya diurutkan berdasarkan pembahasan (lazimnya) dalam ilmu fikih.

Metode dan Cara dalam Penyampaian Hadis

Saat membaca hadis, kerapkali kita menemui kata حدثنا ، أخبرنا ، سمعت ، dan lain-lain. Dalam ilmu hadis semua itu disebut صيغة الأداء والتحمل . Ada beberapa metode dan cara dalam penyampaian hadis dari satu perawi ke perawi lain. Ada 8 cara penyampaian hadis:

1. as-Sima' (pendengaran):
Sang murid mendengar hadis dari gurunya yang hafal hadis atau membacakannya dari tulisannya. Kata yang kerap digunakan adalah: حدثني ، حدثنا ، سمعت عن

2. Pembacaan:
Murid membaca satu atau beberapa hadis di hadapan gurunya, sementara sang guru menyimaknya utk menyesuaikan dengan hafalannya atau tulisannya pribadi. Kata yang kerap digunakan adalah: قرأت على ، حدثنا قراءة عليه

Etika Pelajar Hadis

Etika para pelajar hadis dan ilmunya:
- Niat ikhlas
- Jujur
- Mengutamakan riwayat dari para perawi tsiqah
- Menghindari riwayat dari para perawi dhaif dan maudhu'
- Berakhlak terpuji
- Tawadhu'
- Menghormati ulama
- Persiapan yang cukup sebelum masuk majlis ilmu
- Memahami dengan baik Musthalah hadis
- dan lain-lain

[dikutip dari Kitab "Mafatih Ulum al-Hadis wa Thuruqu Takhrijihi" karya Muhammad Utsman al-Khasyt]