Saturday, July 22, 2017

Apakah syariat Islam mewajibkan suatu sistem politik pemerintahan?

Apakah syariat Islam mewajibkan suatu sistem politik pemerintahan?

Jawaban Maulana Syaikh Ali Jum’ah:

Orang yang membaca sejarah proses berpindahnya kepemimpinan dari masa Nabi Muhammad Saw, kepada khalifah pertama, lalu kepada khalifah selanjutnya, pasti mengetahui bahwa syariat Islam tidak menjelaskan sebuah sistem politik yang paten dengan jelas dan detail, karena permasalahan ini termasuk permasalahan yang bisa berubah (sesuai situasi, zaman, tempat dan masyarakat). Mari kita melihat perbedaan sistem transisi pemerintahan pada masa Nabi dan para khalifah:

1. Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam TIDAK MENENTUKAN dengan jelas satu pun khalifah yang akan memimpin umat Islam setelah beliau. Buktinya adalah bahwa para sahabat yang berkmpul di Saqifah pada hari wafatnya Nabi sempat berbeda pendapat tentang siapa yang paling berhak menjadi khalifah. Namun akhirnya para sahabat resmi memilih Abu Bakar radhiyallahu `anhu sebagai pemimpin.

2. Kemudian Abu Bakar (di akhir hayatnya) MENENTUKAN nama Umar bin Khattab radhiyallahu `anhu secara langsung sebagai pemimpin umat Islam setelah beliau.

3. Lalu Umar bin Khattab (di akhir hayatnya) MEMBENTUK TIM yang terdiri dari enam sahabat agar bermusyawarah menentukan khalifah ketiga dari salah satu diantara mereka sendiri. (Akhirnya mereka sepakat mengangkat Usman bin Affab radiyallahu `anhu sebagai khalifah ketiga)

Fakta ini menunjukkan bahwa ada keterbukaan sistem dalam menentukan pemimpin. Ini juga menunjukkan bahwa umat Islam boleh menentukan sistem-sistem baru, selama tidak keluar dari dasar-dasar hukum syariat Islam dalam hal ini.

Maka jelas bahwa perbedaan sistem pemilihan khalifah pertama, kedua dan ketiga menunjukkan bahwa tidak ada sistem yang baku dan paten dari syariat Islam tentang hal ini. Dan inilah yang menjadi dasar utama para ulama dalam memperbolehkan berbagai sistem politik selama tidak keluar dari dasar-dasar hukum Islam.

(Al-Fātāwā al-Islāmiyah, 39 / 9 – 10  )


Saturday, July 27, 2013

3 Orang yang Tidak Dilihat Allah

Rasulullah saw. bersabda: Tiga macam orang yang tidak akan dilihat oleh Allah dengan pandangan rahmat-Nya pada hari kiamat, dan tidak akan dimaafkan, dan bagi mereka tetap siksa yang pedih.

1. Seorang yang memiliki kelebihan air di tengah perjalanan lalu tidak member orang rantau yang membutuhkannya.

2. Seorang yang berbaiat pada imam (pimpinan), semata-mata untuk dunia, jika ia diberi tetap rela, bila tidak diberi maka ia marah.

3. Seorang menjual barangnya sesudah Asar, lalu ia bersumpah: “Demi Allah Tiada tuhan selain Dia, aku telah membayar dengan harga sekian pada penjualnya”, lalu pembelinya percaya, padahal ia berdusta.

[HR Al-Bukhari]

3 Orang Musuh Nabi SAW di Hari Kiamat

Rasulullah SAW bersabda:

"Tiga Orang yang Aku akan menjadi lawannya kelak di Hari Kiamat:
1. Orang yang berjanji dengan menyebut nama-Ku, tapi ia mengingkarinya.
2. Orang yang menjual orang merdeka dan memanfaatkan harganya.
3. Orang yang mempekerjakan buruh, lalu buruh itu menyelesaikan tugasnya namun ia tidak memberikan upahnya."

[HR Al-Bukhari]

3 Golongan yang Dapat Dua Pahala

Ada tiga golongan yang mendapat dua pahala.

1. Seorang dari ahli kitab yang mengimani nabinya dan Nabi Muhammad SAW.

2. Hamba sahaya yang memenuhi hak-hak Allah dan hak-hak tuannya.

3. Lelaki yang punya budak, yang diperlakukan dengan baik, diajari dengan baik, dimerdekakan, lalu dinikahinya. Ia mendapatkan dua pahala.

HR Al-Bukhari

7 Orang yang Mendapat Naungan Allah di Hari Kiamat

7 Orang yang mendapat naungan Allah SWT di Hari Kiamat:

1. Pemimpin yang adil.
2. Pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah.
3. Hamba yang hatinya selalu terpaut pada masjid, senang berjamaah dan beraktivitas memakmurkan masjid.
4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul, berjumpa, bersahabat karena Allah dan berpisah karena Allah pula.
5. Seorang hamba lelaki yang dirayu oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan dan kecantikan tetapi ia menolaknya, alasannya, "Aku takut kepada Allah."
6. Orang yang bersedekah (sembunyi2) sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh tangan kanannya.
7. Hamba yang berdzikir dan berdoa kepada Allah dalam keheningan malam, dalam kesendiriannya, ia menitikkan air matanya."

(HR. Bukhari Muslim)

Monday, July 8, 2013

Tarawih, Logika Ikut Sopir atau Kondektur

Diskusi itu terjadi sekitar setahun lampau. Usai mengimami tarawih sebuah musholla kecil. Seseorang yang jauh lebih senior menghampiri. Saya tahu, ia berasala dari ormas yang di berbeda pandangan dalam beberapa masalah fikih. Tiba-tiba ia melontarkan logika yang saya kira sangat aneh. Terkait jumlah rakaat shalat tarawih.

“Emang mau ikut sopir apa ikut kondektur,” ujarnya. Saya paham ia merujuk pada jumlah rakaat shalat malam Nabi SAW dan Umar bin Khattab. Nabi disebutnya sebagai sopir dan Umar disebutnya kondektur. Logika yang—menurut saya—benar, tapi membodohi dalam konteks pemahaman beragama.

Dalam riwayat shahih yang kita terima, Rasulullah SAW shalat malam di masjid Nabawi pada bulan Ramadhan. Para sahabat lalu berkumpul mengikuti beliau. Jumlah sahabat yang ikut berjamaah semakin banyak dan berlipat-lipat. Shalat jamaah itu berlangsung hingga malam kedua atau ketiga. Berapa jumlah rakaatnya? Tidak ada penjelasan terkait jumlah rakaatnya. Pada malam ketiga atau keempat, Rasulullah SAW tidak hadir ke masjid. Para sahabat galau menunggu Rasulullah di masjid. Hingga tiba azan Subuh, barulah Rasulullah keluar ke masjid.

Wednesday, January 23, 2013

Rindu Rasul


Dalam setiap ritual Maulid Nabi, ada yang disebut Mahallul Qiyam. Saat di mana seluruh hadirin membaca syair-syair pujian terhadap sang Baginda Nabi Muhammad SAW.
Marhaban Ya Nural Ain
Marham Ahlan wa Sahlan...
Marhaban ya Khairad Da'i
Itulah saat-saat paling emosional bagi saya. Selalu saja tak kuasa menahan derasnya air mata. Rindu kami padamu ya Rasul, rindu tiada terperi. Ingin ku membalas cintamu secara bersahaja.